Jilbabmu Mengajarkanku Bismillah
Karya: Idenn Ls
Andai bisa kulihat angin
Kuingin menangkap dan mencium warnanya
Kuingin melihat hati dan rasanya
Kuingin selalu memilikinya
Kuingin...
Maafkan aku yang terlalu ingin mengenalmu
Akhirnya kuberanikan diri untuk mengirimkan puisi singkat ini kepadanya. Puisi yang sudah lama kutanam dalam benak ini. Bukan karena aku lelaki pengecut, tetapi karena dia berbeda. Dari cara dia berjalan, berbicara, bergaul, dan bahkan dari cara berpakaiannya. Ah... membuat aku merasa tenang bila disampingnya. Namun itu hanya perasaanku saja. Aku tidak mempunyai nyali besar untuk menegurnya, memandang wajahnya atau bahkan sengaja menyenggolnya ketika dia sedang berjalan dan kemudian merapikan barang-barangnya yang berserakan. Lalu kupegang tangannya dan tanpa sengaja mata kami saling bertatapan sesaat. Tersadar. Tersipu malu. Dengan kebahagiaan yang tidak terhingga kusodorkan tanganku mengajaknya berkenalan. Meminta nomor ponselnya dan dengan begitu janji untuk bertemupun bisa kuatur. Ah... begitu mudahnya pikirku.
***
Hampir aku lupa, kuketahui namanya Haya. Jangan dipikir aku yang langsung menanyakan kepadanya. Aku hanya mendengar ketika teman-temannya memanggil. Haya, itu saja. Tidak kuketahui siapa nama lengkapnya. Tapi itu sudah membuatku senang, ditambah lagi nomor ponselnya telah aku ketahui. Sekali lagi bukan aku yang meminta langsung kepada Haya. Aku mengetahuinya dari selebaran suatu perlombaan dan Haya termasuk salah seorang panitianya.
“Amang oi! Apalagi yang kau tunggu Bas, nomor ponselnya sudah ada di tangan kau. Sekarang kau tinggal menghubungi dia, bereskan. Jangan pulak kau menjadi orang yang lamban.” Perasaan membentakku. Entahlah, aku juga bingung. Mengapa aku menjadi orang yang paling bodoh sekarang. Belum pernah dalam ingatanku aku menjadi takut, apalagi menghadapi seorang wanita.
Huruf demi huruf telah kujalin dalam benakku. Nomor ponselnya sudah kutimang-timang sekarang. Alamakjang! Aku takut. Tapi harus sampai kapan kutunggu supaya terkumpul nyaliku untuk menekan tombol OK dan pesan singkatkupun terkirim. Satu hari, dua hari, tiga hari, dan entah sampai berapa hari. Aku hanya bisa menatap seraut wajah manis di balik jilbab lebarnya. Meliriknya dan mencoba merasakan angin terpaan busananya yang anggun. Namun selalu saja pandanganku terhalang dan tak mampu menatap wajahnya jelas. Haya selalu tertunduk, menjaga pandangannya, apalagi ketika dia berpapasan dan atau berbicara dengan lawan jenisnya. Bukan muhrim, begitu menurut mereka.
Semakin lama semakin membuatku penasaran. Otakku terasa penuh dengan tanda tanya wajah Haya. Siapa Haya, bagaimana Haya, dan mengapa Haya. Ah... aku begitu menggilainya.
***
Hari ini aku melihat Haya lagi. Busana kuning muda membalut tubuhnya, ditambah lagi kerudung putih yang membungkus indah kepalanya. Tergerai menghadang angin. Kali ini aku tidak bisa menahannya lagi. Kesejukannya membiusku tajam. Tidak ada yang mampu kukatakan selain untuk memilikinya. Dan akhirnya kumemberanikan diri untuk mengirimkan pesan singkat tersebut. Bak habis mencuri uang puluhan juta, aku begitu gelisah dan ketakutan. Aku tegang. Kuhembuskan nafas keras-keras mencoba mengusir ketakutan yang mengerogotiku.
“Bah! Kenapa lagi sama kau? Ini tahap awal, dan sekarang kau tunggulah apa reaksinya.” Pikiranku menyemangatiku.
Benar juga. Kucoba terus membuang kegusaran ini. Mengharapkan jawaban indah diterima oleh ponselku. Kucoba membangun sabar untuk menunggu jawabannya. Namun ponselku tidak juga memberikan tanda akan adanya pesan yang masuk. Huh... aku begitu kecewa. Tapi aku harus bisa berkenalan dengannya. Harus. Aku harus bisa merebut hatinya dan memilikinya.
***
Andai langit meninggi lagi
Kuakan terus menggapainya
Hingga kutemukan bintang
Dan tak akan kubiarkan dia bersembunyi
Dibalik megahnya sang bulan
Inilah tanganku bintang
Ingin terus menggapai kasihmu...
Setelah beberapa hari tidak kuterima jawabannya melalui ponselku, kukirimkan pesan singkat lagi kepada Haya. Kali ini harapan atas jawabannya sangatlah besar. Aku benar-benar ingin memiliki jilbabnya yang sejuk, kedamaian hatinya bahkan kelembutan pakaiannya. Mungkin harapan itu terlalu besar barang kali, tapi inilah yang benar-benar kurasakan. Hidupku terasa sedikit sejuk ketika kucoba mengingat Haya. Dengan kata-katanya yang lembut membuat aku akan tunduk kelak. Pandangannya yang teduh pasti akan menggiringku menuju keindahan-Nya. Yah, aku memang begitu mengharapkannya. Hingga tanpa sadar lamunan membawaku pada ponselku yang berdering. Hup... kubuka pesan masuk.
Andai telah kau temukan bintang
dari langitmu yang terus meninggi
Jangan kau memisahkannya dari bulan yang melindungi
Hatimu biarlah terus mengenal bintang dengan kasih-Nya
Pesan singkatnya telah kubaca dengan kerut menggaris di keningku. Aku tidak mengerti maksud balasannya itu. “Hatimu biarlah terus mengenal bintang dengan kasih-Nya”. Apa aku tidak boleh berkenalan dengannya? Atau barangkali Haya tidak mau berkenalan denganku. Aku harus minta penjelasan darinya.
Maafkan aku jika aku ingin mengenalmu. Aku Ebas, aku sangat mengagumimu. Sekali lagi aku minta maaf, sebab tanpa sepengetahuanmu aku telah sering memperhatikanmu dari kejauhan. Membayangkan kesejukan jilbabmu, menggiring indah kelembutan wajahmu. Dan sekali lagi aku ingin mengenalmu dengan kesungguhanku.
Kukirim lagi pesan singkat kepadanya. Rupanya tanpa menunggu lama lagi, Haya membalasnya.
Ya Allah...
Izinkanlah jika suatu saat aku menerima cinta...
Pilihkanlah untukku seseorang yang hatinya hidup dengan-Mu...
Dan membuatku semakin menginginkan-Mu...
Aku terdiam. Kebahagiaanku berubah menjadi tanda tanya dan kebodohanku sendiri. Aku semakin tidak mengerti apa maksudnya. Oih! Jari-jariku belum mampu menekan kembali huruf demi huruf untuk membalas pesan singkatnya. Aku lebih dari jauh atas apa yang diinginkan Haya. Aku tidak mempunyai hati yang penuh dengan kasih Allah. Aku begitu sangat buta akan Allah yang mampu membuat Haya semakin mengagumi-Nya. Aku merasa minder pada diriku sendiri dan meyakinkan diriku kalau aku tidak akan pernah mendapatkannya, apalagi akan memiliki Haya. Aku tidak pantas menjadi imamnya.
“Woi lae! Jangan pernah kau ini berfikir kalau si Haya itu mau sama kau yang kayak begini.” Seorang temanku mengingatkanku.
“Betul itu Bas, orang semacam kita ini jauh dari mungkin bisa mendapatkan perempuan kayak si Haya itu, apalagi sampai mau kau jadikan istri pulak dia. Bah! Gawatlah dunia kalau begitu.” Timpal lagi salah seorang temanku.
Ya! Inilah aku, Ebastian yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Tidak pernah merasa memiliki Tuhan meskipun agama melekat pada kartu tanda pendudukku. Tidak mengerti bagaimana menyembah Tuhan yang dianjurkan oleh agama yang disebut-sebut sebagai agamaku. Lama aku tidak menyebutkan nama Tuhanku “Allah” dari ujung lidah hinaku ini. Aku telah melupakan-Nya. Nama-Nya, jiwa-Nya bahkan hati-Nya tidak kumiliki lagi.
Ajari aku bintang...
Dengan kasih-Mu...
Untuk kembali menyebut nama-Mu...
Bisa lagi menyusuri jiwa-Mu...
Kembali menyelami hati-Mu...
Mata kosongku mencoba menghantarkan pesan singkatku itu kepada Haya. Pantaskah! Pekikku dalam hati. Aku benar-benar bingung untuk melanjutkan ini. Ingin kuhentikan sebab aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kulanjutkan. Tapi apa aku bisa? Kuhentikan. Apa aku sanggup? Sanggup untuk melupakannya dan membuang semua kekagumanku jauh-jauh.
Kuingin teriakkan kalau bulan tak mau kehilangan...
Kuingin kumandangkan kalau bulan tak bisa kejauhan...
Aku dalam ketakutan bintang...
Kukirimkan lagi pesan singkat tanpa menunggu pesanku yang sebelumnya dibalas oleh Haya. Aku tidak perduli apa tanggapannya atas pesan singkatku tersebut. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana perasaanku ini bisa kukatakan dengan harapan memperoleh tanggapan yang positif dari Haya. Ya! Harapan kalau Haya mau membukakan hatinya dan bersedia menerima pinanganku.
“Yakin kau mau meminang dia itu?”
“Bah yakinlah pulak tante.”
“Iyo! Tapi kau tengoklah diri kau dulu, sudah cocok kau sama dia? Kalau sudah cocok kau rasa, besok kita pinang dia. Bagaimana?”
“Em... belum kurasa tante. Dia orang yang sangat taat kepada agama. Kata kawan-kawanku dia itu orang yang sangat menjaga diri. Maksudnya... dia tidak bebas tante. Dia itu sangat berbeda dari banyak wanita yang kukenal bahkan yang telah aku pacari. Itulah yang menyebabkan aku begitu sangat mengiginkannya.”
“Itu terserah kaulah Bas, kalau kau ini memang mau sama dia, kau rubah dulu diri kau ini supaya dia bisa yakin untuk menerima kau. Jangan pulak kau mau melamar dia dengan gaya kau seperti ini. Bakalan tak maulah dia sama kau. Meranalah kau inang!”
Bagaimana aku harus merubah diriku? Aku sudah sangat terbiasa dengan duniaku sekarang. Dunia yang sangat berbeda atau malah sangat tidak disukai oleh Haya. Aku harus bisa cepat mengambil keputusan ini. Sebab aku tidak mau terlambat. Aku telah terlanjur mengharapkannya. Jilbabnya yang akan mengharumkan keluargaku kelak jika aku menikah dengan Haya. Jilbabnya yang akan menyanyikan anak-anakku ketika mereka ingin tidur. Jilbabnya yang akan mengingatkanku untuk memimpin keluargaku. Membentuk keluarga bersama Haya menjadi keluarga yang sakinah yang penuh berkat dari Allah SWT.
Ya Allah...
Apa mungkin dia menzolimi diri ini?
Siapakah yang kusalahkan?
Allahkah?
Aduh! Aku benar-benar tak mampu berkata apa-apa. Benarkah aku telah menzolimi Haya dengan semua pesan singkatku. Akupun tidak tahu. Itulah yang menyebabkan kakiku tergiring untuk bertanya pada seorang guru agama di mesjid dekat rumahku. Awalnya aku tidak percaya kepada diriku bisa mencecahkan kakiku di rumah Allah ini. Sebuah ruangan yang sangat asing bagiku. Kuberanikan diri untuk mendekati lelaki paruh baya yang mengenakan sebuah kopiah usang.
“Permisi Pak.”
“Wa’alaikumsallam anak muda.”
“Maaf Pak, Assallamu’alaikum.”
“Kegelisahan dan kekosongan batinmu jangan terlalu lama kau biarkan anak muda. Allah tidak akan merubah nasib manusia, kecuali jika dia merubahnya sendiri.” Beliau mengawali pembicaraan tanpa ada pertanyaan dariku. Aku terdiam. Tidak mampu berkata apa-apa.
“Ada apa anak muda, sudah shalat?” Katanya lagi sambil menepuk bahuku. Aku tersadar. Namun aku hanya mampu menatapnya saja, sekali lagi aku tak berkata apa-apa.
“Allah tidak akan memberikan sebuah masalah kepada manusia yang manusianya tersebut tidak sanggup untuk menghadapinya atau menjalaninya. Ada apa, katakanlah?”
“Oh... tidak ada Pak, hanya saja saya ingin bertanya. Apakah saya menzolimi diri seorang wanita jika saya mencoba mencintainya dan berharap memilikinya.” Kuberanikan diri untuk merangkai kata sambil menarik ponselku dari dalam saku. Pesan masuk.
Ketika dua insan saling bersama terkadang tenggelam dalam lautan asmara. Gelombang yang besar bisa membawa dan menghempaskan mereka. Karena itu obatnya perlu dicari untuk menggapai keridhoan Illahi Rabbi.
Kuperlihatkan pesan singkat ini kepada beliau. Beliau tersenyum menatapku. Merangkul bahuku, mencoba memberi semangat akan apa yang sedang aku hadapi sekarang. Memberiku sebuah wejangan sejuk dan menuntunku untuk menentukan sebuah keputusan. Bait-bait kata, beliau curahkan kepadaku. Nyanyian-nyanyian suci beliau dendangkan dihatiku. Aku terpekur sepi. Berfikir dan berusaha mengisi kekosongan hati yang telah lama tidak terisi oleh kasih-Nya. Air mata membawaku kepada sebuah keindahan hidup dan keindahan cinta kepada-Nya juga kepada Haya.
Subhanallah!
Medan, 2008


suatu saat nanti, pasti cinta itu pun akan memudar... seiring adanya teman2 yg lebih dekat dengan bulan... -(
ReplyDelete,,,dan malam tak pernah menyapa bintang,
ReplyDeletemengharapkan ia datang.
hanya berikan sedikit celah untuknya berkedip diam-diam,
dan tanpa kau tahu ia menghampirimu setiap malam...
masih suka banget dengan cerpen ini... semua tinggal kenangan..
ReplyDelete