Dilarang Membenci Matahari!
Ditulis oleh Idenn Ls
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia
menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” (Al Furqaan 25 : 61).
Mungkin kita pernah berfikir
atau pernah terlintas di benak kita atau barangkali sampai menghujat ketegaran
matahari. Betapa tidak,
sinarnya mampu membuat kita jatuh kekuatan, bahkan kita
harus meneduhkan mata untuk menghalau sinar matahari. Lain halnya dengan
masalah tadi, saat-saat ini laut sudah mulai ramah mengunjungi daratan.
Sesekali dia menghampiri kita, jalan, atau dia berusaha menyelinap masuk
kerumah-rumah kita. Namun sudahkah kita berfikir apa penyebab dari semua itu.
***
Global warming
(pemanasan global) saat ini merupakan suatu isu yang hangat dibicarakan. Menjadi
sebuah topik yang dijadikan sorotan utama dan kalimat pengisi headline di hampir seluruh media masa.
Apakah ini adalah permasalahan yang baru? Tentu saja tidak, global warming
merupakan permasalahan lama yang dihadapi umat manusia dan sekarang semakin memanas.
Global warming dapat didefinisikan sebagai proses
menghangatnya bumi dalam beberapa kurun waktu. Meningkatnya suhu global
diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti naiknya permukaan air
laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, terpengaruhnya hasil
pertanian dan lain sebagainya. Kemungkinan besar global warming ini
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas
manusia melalui efek rumah kaca.
Saya pernah bertanya kepada
teman saya tentang apa itu efek rumah kaca. Secara yakin dia menjawab, “Itu
adalah akibat dari rumah-rumah atau gedung-gedung yang menggunakan bahan kaca
sebagai konstruksi bangunan mereka atau dengan kata lain bangunannya memiliki
banyak kaca.” Huh... jawabannya bukan membuat saya mengangguk begitu saja, saya
semakin bingung apa yang menyebabkan rumah yang memiliki banyak kaca berakibat
pada global warming?
Namun pada akhirnya saya
mendapat pencerahan. Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari
matahari. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas yang datang dari matahari
dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap
terperangkap di atmosfer bumi akibat
menumpuknya jumlah gas rumah kaca yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan
bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal
tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi
semakin meningkat.
Istilah efek rumah kaca
berasal dari pengalaman petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur
dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan tetap hangat.
Dalam hal ini digunakan kaca yang bening karena sifat materinya yang dapat
ditembus sinar matahari. cahaya matahari yang menembus kaca dipantulkan kembali
oleh benda-benda dalam ruangan kaca, ketika dipantulkan sinar itu berubah
menjadi energi panas berupa sinar infra merah. Namun gelombang panas itu
terperangkap di dalam ruangan kaca serta tidak bercampur dengan udara dingin di
luarnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya.
Inilah gambaran sederhana terjadinya efek rumah kaca.
Jadi sekarang apakah kita
masih menggunjing kaca sebagai penyebab global
warming?
Sebenarnya efek rumah kaca ini
sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi. Tanpanya planet
ini akan menjadi dingin karena fungsinya sebagai penjaga hangatnya bumi, gas-gas inilah yang disebut sebagai gas rumah
kaca. Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut berlebih di
atmosfer, pemanasan global akan menjadi akibatnya. Gas yang termasuk didalamnya
antara lain adalah: Karbondioksida (CO2), Nitrooksida (NO2),
dan Metana (CH4).
Peningkatan pemanasan global
disebabkan dari efek rumah kaca yang telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-50
C. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2)
dan yang lainnya disebabkan dari ulah manusia itu sendiri. Salah satu
penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Konsumsi total
bahan bakar fosil ini di dunia meningkat sebesar satu persen pertahun.
Kerusakan yang parah dapat
diatasi dengan berbagai cara. Daerah
pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya
air laut. Selanjutnya dengan menjaga dan melestarikan hutan yang masih tersisa
di dunia. Di Indonesia, perhatian terhadap lingkungan hidup dikonkretkan pada
11 Maret 1982, Undang-Undang Lingkungan Hidup
pertama (UU No. 4/1982).
Undang-Undang No.41/1999
tentang kehutanan juga ikut menguatkan dengan menekankan pada fungsi hutan,
yaitu hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah
banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara
kesuburan tanah. Dalam UU tersebut diatur pula larangan untuk melakukan
penambangan di area hutan lindung.
Namun, kontradiksi menyeruak, pemerintah kemudian mengeluarkan Perpu No.
2/2004 yang menerobos larangan itu dan memperbolehkan penambangan di areal
hutan lindung.
Selanjutnya, pada tanggal 4
Februari 2008, pemerintah mengeluarkan PP No. 2/2008 tentang Penerimaan Negara
Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan
Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan. Secara ringkas PP itu mengizinkan
pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang dan
infrastruktur telekomunikasi dan jalan tol. Yang lebih mencengangkan lagi,
hutan yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan alam dipatok dengan harga Rp.
1,2 juta – Rp. 3 juta per hektar atau tidak lebih Rp. 300 per meternya.
Menakjubkan bukan. Berarti dengan uang seribu rupiah saja, saya bisa mengganti
kamar kosan saya dengan membangunnya sendiri di tanah yang telah saya beli.
Hutan memegang peranan sangat
vital sebagai pengendali keseimbangan ekologi. Hutan harus dijadikan aset abadi
yang harus dijaga untuk kelestarian umat manusia di muka bumi ini. Seperti
diketahui pula, manusia harus mempertahankan keberadaannya sebagai spesies di
muka bumi ini. Perusakan terhadap hutan ini merupakan sebuah tindakan
kesengajaan yang bisa merusak kemungkinan lestarinya manusia.
Berdasarkan kepada indikator
perusakan hutan sebagai penyebab dari efek global warming Indonesia menempati
posisi ketiga di dunia. Mantap! Mungkin dengan diberlakukannya PP No.2/2008
ini, Indonesia bisa menempati urutan kedua atau mungkin pertama. Padahal 160
negara dunia pada tahun 1997 di Jepang telah merumuskan persetujuan yang
dikatakan lebih kuat dari pertemuan awal tahun 1992 yang dikenal dengan
Protokol Kyoto. Dalam pertemuan ini didapat sebuah metode yang wajib diterapkan
oleh setiap negara untuk menghambat emisi gas rumah kaca. Para negosiator
merancang sistem bahwa suatu negara yang memiliki program pembersihan yang
sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak
digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut dengan perdagangan karbon.
Sebenarnya kita sendiri dapat
membantu pencegahan pemanasan global ini. Dengan apa? Tidak terlalu sulit
menurut saya, setiap orang dapat melaksanakannya guna membantu mencegah
terjadinya pemanasan global, diantaranya adalah Pertama, membaca. Belajar mengenai lingkungan adalah hal yang
sangat penting atau dengan semaraknya dunia internet saat ini, ada baiknya kita
ikut menjelajahi alam tersebut untuk mencari situs-situs yang dapat memberikan
informasi mengenai lingkungan dan perubahan iklim.
Kedua, hemat
penggunaan listrik dan gunakan sehemat mungkin energi fosil. Ketiga, berbicara pada teman dan
keluarga. Berilah apa yang kamu tahu tentang pemanasan global ini. Keempat, daur ulang. Mendaur ulang
kaleng, botol, kantong plastik, koran dan lain sebagainya dapat mengurangi
jumlah sampah yang dibuang di tempat pembuangan sampah dan dengan ini dapat
membantu penyelamatan sumber daya alam. Kelima,
penanaman pohon. Penanaman pohon merupakan cara yang paling mudah untuk
mengurangi pemanasan global atau dapat menghilangkan karbon dioksida di udara.
Sebab, pohon menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui
fotosintesis, dan menyimpan karbon di tubuhnya. Penebangan hutan sudah memasuki
level yang mengkhawatirkan. Seperti yang saya katakan tadi, langkah yang perlu
dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang dapat
mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Kita semua pasti mengharapkan
kerendahan hati bumi untuk bisa kita huni sampai kesemua generasi kita. Masih
ada pepohonan yang bisa dipanjat oleh anak-anak kita, daratan tempat kita
berpijak dan tidak lupa pula masih ada yang menghuni planet ini, kita dan juga
makhluk hidup lainnya. Bisa anda bayangkan kalau bumi ini kosong. Aku, kau dan
semua tak kelihatan lagi. Sekarang apa tanggapanmu tentang matahari?
***
Medan, Agustus 2008



No comments:
Post a Comment